
Pekalongan mempunyai makanan khas yang menjadi ciri kota ini iaitu megono.
Megono. Namanya unik, sepintas mirip nama orang (Margono, teman ketika kerja di Solo dulu. Sekarang kemana dan dimanakah engkau berada? Masih ingat setiap malam kita beramai-ramai main game Age of Empire di jaringan ? Waktu itu… maaf, ngelantur). Apa ya megono itu?
Megono adalah salah satu jenis kuliner dari Bumi Batik (aku ingin mempopulerkan sebutan ini di blogku untuk diriku sendiri, meski mungkin agak sedikit bertolak belakang dengan slogan blog ini “bukan sekedar kota batik” ). Secara umum, megono adalah makanan untuk teman makan nasi, sejenis sayuran tapi tidak memakai kuah, dengan bahan utama buah nangka muda yang dicacah lembut, dengan adonan bumbu khas ( berhubung aku cuma penikmat, bukan pembuat megono, aku tidak bisa menjelaskan proses pembuatannya secara rinci).
Megono paling enak dinikmati bersama nasi, mendoan, dan paling penting sambel, disajikan hangat. That was most delicious food in the world, i think :) Di semenanjung (bahasa apa ini?) Pekalongan, di seluruh kolong Bumi Batik, dan di mana saja ada ruang yang bisa ditempati di belahan Kota Santri (terlalu bombastis apa tidak ya?), berjejer warung lesehan dengan menu utama sego bumbu (ini nama lain untuk nasi plus megono). Biasanya mulai dasar (bahasa Pekalongan untuk menyebut menanta barang dagangan) setiap sore menjelang petang dan nanti laut (mulai mengemasi barang dagangan dan bersiap pulang) menjelang tengah malam.
Warung-warung lesehan ini merupakan ajang untuk bersosialisasi warga Pekalongan, nongkrong sambil cuci mata, dan kadang digunakan untuk … cari jodoh! Ah, jadi ingat dan pengen makan megono nih, sayang di Purwokerto tidak ada (jarang?) yang jual nasi megono.
Info Pekalongan
Blogger Pekalongan
Lintas Indonesia
Informasi Dunia PTC
Cellular Corner
Megono Kuliner Khas Pekalongan
13 Maret 2009Diposting oleh Cah Pekalongan di Jumat, Maret 13, 2009 1 komentar
Label: blogger pekalongan, kuliner, makanan khas, megono
Kesenian Tradisional Pekalongan
06 Maret 2009Ada banyak kesenian tradisional yang berasal dari Pekalongan. Ada seni tari, seni musik, seni drama, seni lukis, dan sebagainya. Di sini aku sebutkan beberapa di antaranya, yakni Simtudduror, sintren dan tentu saja seni batik.
Simtudduror
Simtudduror, atau biasa disebut duroran merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan rebana dan jidor sebagai alat musiknya.
Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran pada Allah SWT.
Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah Agama. ( Sumber: Kantor Pariwisata & Kebudayaan )
Tari Sintren
Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari.
Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak).
Didalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, Si pawang (dalang) sering mengundang Rokh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain Sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan.
( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )
Seni Batik
Batik merupakan produk asli Indonesia dan merupakan kebudayaan asli kita. Sungguh membuat hati ini menjadi resah ketika tiba-tiba ada negara lain yang mengklaim kesenian batik sebagai budaya mereka. Sungguh negara yang tidak tahu malu mengaku-aku kebudayaan negara lain sebagai miliknya. Dilihat dari segi manapun terlihat jelas bahwa kesenian batik milik republik tercinta ini. Hanya karena kita belum mempatenkannya, mereka mendahului mengklaim. Sungguh.. ah sudahlah, malah jadi esmosi nanti.
Batik Pekalongan terkenal di seluruh dunia, diantaranya motif jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran. Batik Pekalongan mempunyai ciri tersendiri didalam segi motif ataupun warnanya. Warna atau motif batik Pekalongan banyak berpengaruh gaya dan motif Cina.
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Jumat, Maret 06, 2009 1 komentar
Label: blogger pekalongan, kesenian pekalongan, kesenian tradisional
Dewi Lanjar, Legenda Penguasa Laut Pekalongan
05 Maret 2009Tersebutlah, perjalanan Dewi Lanjar sampai disebuah sungai yaitu sungai Opak. Ditempat ini kemudian bertemu dengan Raja Mataram bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa ngapung diatas air di sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya serta pula mengatakan tidak bersedia untuk menikah lagi. Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu demi mendengar tuturnya tergaru dan merasa kasihan. Oleh karena itu dinasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan serta pula menghadap kepada Ratu Kidul. Setelah beberapa saat lamanya, mereka berpisahan serta melanjutkan perjalanan masing-masing, Panembahan dan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menghadap Ratu Kidul. Dikisahkan bahwa Dewi Lanjar sesampainya di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Karena ketekunan dan keyakinan akan nasehat dari Raja Mataram itu akhirnya Dewi Lanjar dapat moksa ( hilang ) dan dapat bertemu dengan Ratu Kidul. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon untuk dapat menjadi anak buahnya, dan Ratu Kidul tiada keberatan. Pada suatu hari Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren ( kini letaknya disekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen tempat Raden Bahu membuat api ) tetapi karena kesaktian Raden Bahu, yang diperoleh dari bertapa Ngalong ( seperti Kalong / Kelelawar ), semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu. Karena Dewi Lanjar tiada berhasil menunaikan tugas maka ia memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahu disetujui bahkan pula oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan. Konon letak keraton Dewi Lanjar terletak dipantai Pekalongan disebelah sungai Slamaran.
Ada cerita yang beredar di masyarakat Pekalongan tentang Penguasa Pantai Utara Jawa di wilayah Pekalongan, ialah Dewi Lanjar. Siapa dan bagaimana legenda Dewi Lanjar, sosok makhluk halus berwajah cantik ini ? Ikuti kisah berikut.
Diceritakan pada jaman dahulu di suatu tempat Kota Pekalongan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, bernama Dewi Rara Kuning. Adapun tempat tinggalnya tiada dapat diketahui secara pasti.
Sejak ditinggal suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangat merana dan selalu memikirkan suaminya saja. Hal yang demikian itu berjalan beberapa waktu lamanya, tetapi lama kelamaan Dewi Lanjar berpikir bahwa kalau dibiarkan demikian terus akan tidak baik akibatnya. Oleh karena itu ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sambil menangis hatinya yang sedang dirundung malang.
Dalam menempuh gelombang hidupnya Dewi Rara Kuning mengalami penderitaan yang sangat berat, sebab dalam usia yang sangat muda ia sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dunia setelah beberapa waktu melangsungkan pernikahannya. Maka dari itulah Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar. ( Lanjar merupakan sebutan bagi seorang perempuan yang bercerai dari suaminya dalam usia yang masih muda dan belum mempunyai anak ).
Diposting oleh Cah Pekalongan di Kamis, Maret 05, 2009 1 komentar
Tradisi-tradisi di Pekalongan
03 Maret 2009Pekalongan mempunyai banyak tradisi yang biasa dijalankan oleh masyarakat dan menyimpan potensi sebagai daya tarik wisata diantaranya Khoul dan Syawalan.
Tradisi Khoul
Khoul adalah tradisi berupa upacara keagamaan untuk memperingati / mengenang jasa-jasa tokoh agama / habib yang dilakukan oleh penerus dan atau pengikut tokoh tersebut. Tradisi ini dilakukan setahun sekali.
Ada banyak khoul yang diselenggarakan dan menarik banyak peziarah dari berbagai kota di sekitar Pekalongan. Yang paling terkenal adalah Khoul untuk mengenang jasa- jasa Habib Akhmad bin Abdullah bin Tholib Al Athas, semasa hidupnya merintis penyebaran agama islam di Jawa, yang diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya'ban (Ruwah) setiap tahun.
Tradisi Syawalan
Syawalan merupakan tradisi khas masyarakat Pekalongan, yakni seminggu setelah hari raya Iedul Fitri (Lebaran). Biasanya setelah lebaran, masyarakat Pekalongan melaksanakan puasa sunah 6 hari. Oleh karena iitu, masyarakat Pekalongan baru benar-benar merayakan lebaran setelah seminggu Lebaran, dengan berbagai macam cara. Ada yang berwisata, berkunjung ke sanak saudara yang jauh, dan sebagainya.
Ada satu tradisi syawalan yang terkenal sampai ke luar daerah, bahkan mungkin sampai ke seluruh Indonesia karena sudah sering diliput oleh televisi nasional, yakni pemotongan kue lopis raksasa di Krapyak (disebut juga lopisan atau krapyakan).
Krapyakan / lopisan adalah tradisi masyarakat yang berada di Pekalongan dan sekitarnya untuk menyaksikan pemotongan LOPIS RAKSASA yang mempunyai ukuran diameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm, diselenggarakan 1 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. oleh Walikota / Pejabat Muspida.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.
Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Upacara pemotongan lopis ini baru dimulai sejak tahun 1956 oleh bapak Rohmat, kepala desa daerah tersebut pada saat itu. Lopisan berasal dari kata lopis, yaitu sejenis makanan spesifik Krapyak yang bahan bakunya terdiri dari ketan, yang memiliki daya rekat luar biasa bila sudah direbus sampai masak benar.
Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk bercerai berai kembali sebagaimana semula.
Mengapa tidak dibungkus dengan plastik atau bahan lain yang lebih praktis, sesuai dengan kecangihan masa kini ? Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet. Demikian mendalamnya pemikiran sesepuh kita terdahulu. ( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Selasa, Maret 03, 2009 2 komentar
Label: blogger pekalongan, kota batik, kota santri, tradisi-tradisi pekalongan
Obyek Wisata Pantai di Pekalongan
02 Maret 2009Pantai Slamaran Indah
Terletak disebelah timur Pantai Pasir Kencana dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), dapat dicapai lewat muara pelabuhan dengan perahu pesiar dan lewat darat 5 Km dari kota / terminal bus.
Fasilitas yang tersedia : Tempat parkir cukup, masih berupa hutan pantai yang alami, bisa menikmati terbit dan terbenamnya matahari dengan suasana yang indah, luas 7 Ha. Cocok bagi anda yang mempunyai jiwa natural.
Pantai Pasir Kencana
Pantai Pasir Kencana merupakan tempat yang cocok untuk rekreasi menghirup udara pantai, melihat sunset dan sunris.
Lokasinya bersebelahan dengan tempat pelelangan ikan (TPI) terkenal dan terbesar di pantai utara Jawa sehingga cocok sebagai rekreasi bersampan dan memancing karena banyak yang menyewakan perahu sampan.
Pantai Pasir Kencana berdekatan dengan muara pelabuhan sehingga pengunjung dapat menyaksikan beraneka macam perahu nelayan, baik yang modern maupun tradisional. Jarak tempuh dari kota / stasiun keretaapi Pekalongan sekitar 4,5 km.
Pantai Wonokerto
Pantai Wisata Wonokerto terletak kurang lebih 5 km dari jalan raya Wiradesa arah utara tepatnya di Desa Wonokerto Kecamatan Wonokerto, pada bulan Dhulkaidah di tempat ini biasa diadakan acara sedekah laut yang diadakan oleh masyarakat nelayan setempat.
Pantai Depok
Sebagai salah satu daerah pesisir, Kabupaten Pekalongan juga memiliki potensi wisata air yang berbeda dengan daerah – daerah sekitarnya yaitu Pantai Depok. Lokasi yang terletak di desa Depok Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan menyimpan banyak potensi yang layak dikunjungi. Sederetan pohon nyiur yang tumbuh disekitar kawasan Pantai Depok menjadi daya pemikat yang utama.
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Senin, Maret 02, 2009 1 komentar
Obyek Wisata Alam di Pekalongan
27 Februari 2009Selain Linggo Asri yang menjadi obyek wisata alam andalan, kabupaten Pekalongan masih mempunyai banyak obyek wisata alam. Beberapa di antaranya aku sebutkan di bawah ini.
Watu Ireng di Kandangserang
Obyek wisata yang berupa batu besar dan berwarna hitam ini lebih dikenal masyarakat sebagai Obyek Wisata Watu Ireng. Watu Ireng yang terletak di Desa Lambur Kecamatan Kandangserang, 17 km ke arah selatan dari Ibukota Kabupaten Pekalongan, diperkirakan bagian dalamnya berongga.
Ekowisata Petungkriono
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan Kabupaten Pekalongan berlokasi di lereng Gunung Ragajambangan pada ketinggian 900 – 1600 m dpl. Sebuah kawasan yang sejuk dengan keragaman dan keindahan alam yang cocok untuk tempat wisata.
Jarak dari ibukota Kabupaten Pekalongan sekitar 30 km dan dapat di capai dengan kendaraan umum.
Sebagai kawasan ekowisata, Petungkriyono merupakan lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk melakukan pemenuhan hasrat berwisata alam secara bertanggung jawab. Di kawasan ini anda dapat memperoleh pengalaman melakukan penjelajahan alam dan kegiatan outbond.
WISATA ALAM LOLONG
Wisata Alam Lolong terletak kurang lebih 6 Km dari kota Kecamatan Karanganyar. Potensi wiasata ini juga didukung dengan adanya buah durian yang sudah cukup terkenal pada setiap musimnya.
WISATA ALAM ROGOSELO
Wisata Alam Rogoselo terletak kurang lebih 14 km dari ibu kota Kecamatan Doro tepatnya di Desa Rogoselo. Wisata berupa petilasan/cagar alam Arca Baron Sekeber dan Makam Ki Gede Atas Angin.
OBYEK WISATA CURUG MUNCAR
Dikenal sebagai daerah yang sangat eksotis dengan keindahan air terjun dan pemandangan alamnya. Air terjun Curug Muncar ini banyak sekali dikunjungi oleh para wisatawan dan para pecinta alam.
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Jumat, Februari 27, 2009 0 komentar
Linggo Asri, Wisata Alam Andalan Pekalongan
26 Februari 2009Jika Anda suka pemandangan alam di ketinggian yang berhawa sejuk, coba berkunjung ke Linggo Asri, obyek wisata andalan kabupaten Pekalongan. Letaknya di sebelah selatan kecamatan Kajen di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Ciri khas lokawisata ini adalah panorama alami dan udaranya yang sejuk karena berada di daerah tinggi. Perpaduan potensi alam, pegunungan dan hutan wisata serta kondisi masyarakat yang masih pedesaan menjadi faktor yang menarik untuk dinikmati. Letaknya di jalan kabupaten yang menghubungkan Pekalongan dengan kabupaten Banjarnegara sehingga sangat strategis sebagai daerah wisata yang mudah dijangkau.
Kenanganku di tempat ini adalah ketika bersama rombongan teman-teman naik sepeda motor. Jalannya naik turun dan di beberapa titik lumayan berbahaya jika tidak hati-hati. Ada teman yang senang bergaya menarik perhatian orang. Akhirnya memang ia jadi tontonan orang ketika di satu belokan tajam dia ... nyungsep ke rerimbunan pohon teh di sepanjang jalan. Beruntung dia tidak jatuh ke jurang yang lumayan curam. Selamat, selamat... Eh, iya, namanya kebetulan Slamet!!!
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Kamis, Februari 26, 2009 0 komentar
Sejarah Pekalongan - Babad Tanah Jawa
25 Februari 2009Sejarah Pekalongan berikut ini lebih bernilai ilmiah karena ada bukti tertulis, bukan sekedar mitos, cerita pengantar tidur dari orang tua ke anak-cucunya.
Pekalongan mulai dikenal setelah Bahurekso bersama anak buahnya berhasil membuka Hutan Gambiran / Gambaran, atau dikenal pula Muara Gambaran. Hal ini terjadi setelah Bahurekso gagal didalam penyerangan ke Batavia, bersama anak buahnya kembali ke Pantai Utara Jawa Tengah, namun secara sembunyi-sembunyi, sebab kalau diketahui oleh Pemerintah Sultan Agung pasti ditangkap dan dihukum mati sehingga terus melakukan yang disebut TAPA-NGALONG. Dari sinilah muncul prediksi-prediksi berkaitan dengan istilah PEKALONGAN.Menurut penuturan R. Basuki (Putra Almarhum R. Soenarjo keturunan Bupati Mandurorejo) ; nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG (ALONG) yang artinya hasil. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Prediksi Tapa Ngalong itu hanya gambaran (sanepo) yang mempunyai maksud siang hari sembunyi, malam hari keluar untuk mencari nafkah.
Didalam babad Sultan Agung yang merupakan sumber yang dapat dipercaya istilah pengangsalan juga muncul:
"Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane ; lampahe lumintu, ing Tirboyo lawan semawis ; ing Lepentangi, Kendal, Batang, Tegal, Sampun, Barebes lan Pengangsalan. Wong pesisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertata" (senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar.Pelayaran tiada henti-hentinya melewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon).
Dari beberapa uraian tersebut, prediksi Topo Ngalong hanya gambaran atau sanepo yang mempunyai maksud, pada siang hari sembunyi, dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan / nafkah.
Sejarah Pekalongan selengkapnya, mulai jaman prasejarah, jaman penjajahan Belanda, sampai jaman Republik Indonesia, bisa dilihat di sini.
(Sumber : situs Pemerintah Kab Pekalongan )
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Rabu, Februari 25, 2009 0 komentar
Label: blogger pekalongan, sejarah pekalongan
Sejarah Pekalongan - The Myth
23 Februari 2009Kisah ini diceritakan oleh orang-orang tua, tentang bagaimana riwayat Pekalongan dahulu, dengan bumbu heroisme dan penuh keajaiban sehingga terkesan demikian sakralnya, diceritakan secara turun temurun.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang tua untuk membumbui cerita selezat-lezatnya sehingga mempunyai kesan magis dan sakral. Ini cerita tentang sejarah kota leluhur dari kakek atau bapak kepada anak atau cucu, sehingga dibuat sedemikian rupa supaya yang mendengar bisa bangga terhadap tanah kelahirannya. Perkara masuk akal atau tidak itu lain soal.
Syahdan ada seorang Pangeran yang oleh ayahandanya, penguasa sebuah negeri, dititipkan ke pertapa sakti untuk belajar berbagai macam ilmu, termasuk ilmu kanuragan dan ilmu ketatanegaraan, sehingga pada saatnya nanti ia siap untuk menjadi raja menggantikan ayandanya.
Di akhir masa belajarnya, oleh sang guru, Pangeran disuruh bertapa untuk menyempurnakan ilmunya. Cara bertapanya bukan sembarang tapa, melainkan Tapa Ngalong, yaitu menirukan hewan Kalong (sejenis kelelawar besar) dengan cara menggantung kaki di atas kepala di bawah.
Ketika saatnya tiba, sang Pangeran mendapat bagian wilayah kekuasaan di sekitar tempatnya berguru. Karena ia bertapa dengan cara ngalong, ia menamakan tempat itu PEKALONGAN.
Sampai di sini cerita tentang Pekalongan yang aku dengar dari para leluhur. Soal kebenarannya wallahu a'lam bishshowab. Mudah-mudahan tidak ada guru sejarah yang membaca postingan ini karena bisa-bisa aku dikritik karena menulis cerita berdasarkan kisah warisan yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalau pun ada, semoga memberitahukan kisah yang sebenarnya yang tidak dilatarbelakangi oleh cerita mitos yang penuh mistis.
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Senin, Februari 23, 2009 3 komentar
Label: blogger pekalongan, kota batik, kota santri, sejarah pekalongan
Pekalongan Bukan Hanya Kota Batik
Kalau kita menyebut nama Pekalongan, tentu terbayang keindahan kebudayaannya yang berupa seni batik. Sebaliknya, kalau menyebut kata batik, yang pertama terlintas di kepala kita tentulah Pekalongan. Kota Pekalongan memang identik dengan kota batik, sebagaimana syair salah satu lagu Slank :
"Kota batik di Pekalongan, bukan Jogya bukan Solo..."
>Hal tersebut tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Pekalongan BUKAN HANYA KOTA BATIK. Ada Pekalongan yang KOTA SANTRI. Budaya Pekalongan juga bukan hanya seni batik. Ada budaya Syawalan, yakni seminggu setelah hari raya Iedul Fitri, yang terkenal dengan lopis raksasanya, ada Simtud Duro, dan lain-lain. Semua itu membuat Pekalongan kaya akan tradisi.Hal-hal inilah yang akan aku bicarakan di blog ini. Ada megono yang sangat khas itu (bila dibeli di luar kota, meskipun dibuat oleh orang Pekalongan dengan resep dari Pekalongan, rasanya beda, tidak se-maknyus ketika dinikmati di Pekalongan) . Ada tiban, versi Pekalongan dari ciblek, dongdot, atau kupu-kupu malam. Ada ... ah, banyak yang mau aku ceritakan, tapi mungkin satu persatu agar lebih detil. Sekali lagi, semuanya dengan cita rasa Pekalongan. Jadi, jangan dilewatkan ya...
Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Senin, Februari 23, 2009 0 komentar
Label: blogger pekalongan, kota batik, kota santri
Pekalongan, Kota Batik dan Kota Santri
Jika Anda bermaksud mencari tahu apa saja tentang Pekalongan yang ditulis oleh orang Pekalongan dengan cita rasa Pekalongan, Anda berada di tempat yang tepat.
Ketika orang mengenal Pekalongan sebagai Kota Batik , aku sebagai warga Pekalongan yang bukan Kota Batik(Kodya Pekalongan) melainkan Kota Santri
Lanjutkan..Diposting oleh Cah Pekalongan di Senin, Februari 23, 2009 0 komentar
Label: blogger pekalongan
Peta Pekalongan
Peta Kabupaten Pekalongan

Daftar Kecamatan Kabupaten Pekalongan
1. Kecamatan Bojong
2. Kecamatan Buaran
3. Kecamatan Doro
4. Kecamatan Kajen
5. Kecamatan Kandangserang
6. Kecamatan Karanganyar
7. Kecamatan KarangDadap
8. Kecamatan Kedungwuni
9. Kecamatan Kesesi
10. Kecamatan Lebakbarang
11. Kecamatan Paniggaran
12. Kecamatan Petungkriyono
13. Kecamatan Siwalan
14. Kecamatan Sragi
15. Kecamatan Talun
16. Kecamatan Tirto
17. Kecamatan Wiradesa
18. Kecamatan Wonokerto
19. Kecamatan Wonopringgo
Peta Kotamadya Pekalongan
View Larger Map Lanjutkan..
Diposting oleh Cah Pekalongan di Senin, Februari 23, 2009 0 komentar
Label: blogger pekalongan, peta pekalongan
